Sewaktu berusia 9 tahun orangtua Jesse Conners bergabung dengan
kelompok kultus yang percaya bahwa dunia akan segera kiamat. Mengikuti
perintah kultus tersebut mereka menjual seluruh harta bendanya dan hidup
berkelana mengelilingi Amerika hingga sampai ke Meksiko.
Entah bagaimana, akhirnya ayahnya mencari penghidupan baru. Saat
Conners duduk di bangku SMA, ayahnya menjalankan klinik kesehatan
alternatif. Conners sendiri ikut membantu memasarkannya. Bahkan di saat
usianya 16 tahun ia sudah mengelola sendiri 13 klinik kesehatan miliknya
dengan pendapatan tahunan hingga US$80.000.
Dari pendapatan sebanyak itu ia kemudian menginvestasikannya ke bidang real estate. Tahun 2001 ketika Donald Trump menggelar program televisi The Apprentice,
ia tampil sebagai pesertanya. Meski tak memenangkan program kompetisi
itu, ia cukup beruntung karena bisa menimba ilmu bisnis di sana. Selain
itu namanya juga jadi populer. Gara-gara itu pula ia mendapat kesempatan
jadi pembicara investasi bidang real estate di berbagai kesempatan.
Tahun 2008 satu idenya muncul. Ia membuka toko online untuk barang-barang mewah dengan sistem membership,
Peppermintpark.com. Meski begitu, Peppermintpark.com baru melesat
bisnisnya saat dimuat di sejumlah media pada tahun 2010. Tahun 2011
usahanya ini sudah mencapai nilai US$1 juta.
Ketekunannya mengembangkan bisnis, menurut Conners yang kini berusia 29
tahun, terdorong oleh masa sulitnya di masa kecil. Kesulitan-kesulitan
itu membuatnya terus bermimpi untuk menjadi pengusaha sukses. Setiap
peluang ia jajagi. Tak sedikit yang gagal. Namun menurutnya gagal bukan
masalah. “Dalam kehidupan ini selalu ada tembakan-tembakan yang mengarah
ke kita agar kita keluar (dari kehidupan). Hal itu juga terjadi dalam
bisnis. Jangan biarkan tekanan itu memundurkan kita. Coba lagi, dan
mulai lagi,” tuturnya mengenai kiat bisnisnya.
Dengan prestasinya itu, majalah Kiplinger menempatkannya menjadi salah
satu dari enam pebisnis sukses Amerika yang berangkat dari bawah.
source : http://www.andriewongso.com/articles/details/5622/Jangan-Biarkan-Tekanan-Memundurkan-Kita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar